Minggu, 12 Juni 2011

Investasi Tol : Berikan Dampak Positif Bagi BUMN Konstruksi

Thank you for using rssforward.com! This service has been made possible by all our customers. In order to provide a sustainable, best of the breed RSS to Email experience, we've chosen to keep this as a paid subscription service. If you are satisfied with your free trial, please sign-up today. Subscriptions without a plan would soon be removed. Thank you!

Perusahaan yang melakukan penyertaan saham di proyek tol di antaranya PT Wijaya Karya Tbk (WIKA), PT Adhi Karya Tbk (ADHI), PT PP (Persero) Tbk, PT Waskita Karya (Persero), dan PT Hutama Karya (Persero).

JAKARTA - Sejumlah badan usaha milik negara yang bergerak di sektor konstruksi makin aktif  mengembangkan investasinya di bisnis jalan tol meskipun tidak menjadi pemegang saham mayoritas.

Penyertaan saham di proyek jalan tol akan memberikan dampak positif bagi kinerja perusahaan, menurut analisis Departemen Riset IFT.

Perusahaan yang melakukan penyertaan saham di proyek tol di antaranya PT Wijaya Karya Tbk (WIKA), PT Adhi Karya Tbk (ADHI), PT PP (Persero) Tbk, PT Waskita Karya (Persero), dan PT Hutama Karya (Persero).

Betty Ariana, Corporate Secretary PT PP Tbk, mengatakan perusahaan sudah melakukan investasi pada jalan tol Depok-Antasari sepanjang 21,5 kilometer.

Dalam proyek jalan tol Depok-Antasari, terdapat empat pemegang saham utama yakni  Citra Marga Nusaphala Persada (CMNP) memegang saham 62,5%, sisanya masing-masing 12,5% adalah Hutama Karya, Waskita Karya, dan PT PP.

"Ini sebagai upaya menambah recurring income dan sudah kita lakukan sejak dua tahun yang lalu," katanya,Seperti dilansir laman BUMN

Menurut Betty, perusahaan telah menyetor dana sebesar Rp 15 miliar sebagai penyertaan saham di dalam konsorsium tersebut. Rencananya, secara keseluruhan perusahaan akan menyetor dana sebesar Rp 113 miliar sebagai penyertaan saham di proyek jalan tol Depok-Antasari.

Betty, mengatakan perusahaan sudah merencanakan untuk melakukan investasi di jalan tol jauh lebih lama ketimbang dari investasi di sektor listrik. Realisasi ini terhambat karena masalah pembebasan lahan yang lambat kerap membuat proyek jalan tol tidak kunjung dapat dimulai.

"Karena masalah tanah menjadi sebuah risiko, membuat perusahaan baru memutuskan untuk melakukan investasi pada jalan tol Depok-Antasari. Untuk mendukung pada investasi jalan tol sangat diperlukan segera selesainya Undang-Undang Lahan sehingga proses pembebasan tanah yang sekarang masih lambat dapat bergerak lebih cepat," ungkap Betty.

Tonny Warsono Direktur SDM dan Pengembangan Wijaya Karya, mengatakan perusahaan saat ini mempunyai saham pada ruas jalan tol Surabaya-Mojokerto.

Perusahaan mempunyai saham sebesar 25%, sementara mayoritas di proyek tersebut dikuasi oleh PT Jasa Marga Tbk (JSMR). "Perusahaan memang melakukan investasi pada wilayah yang berpotensi memberikan pendapatan menjanjikan," katanya.

Pekerjaan konstruksi ruas jalan tol Surabaya-Mojokerto sekarang sedang berlangsung. Investasi proyek ini mencapai Rp 3,22 triliun.  Ruas ini termasuk dalam prioritas pemerintah karena termasuk dalam ruas jalan tol Trans-Jawa yang harus selesai pada 2014.

Sementara itu, Wijaya Karya, Adhi Karya dan Hutama Karya juga menjadi anggota konsorsium untuk tender pembangunan jalan tol Serangan-Tanjung Benoa, Bali, yang membutuhkan investasi senilai Rp 1,9 triliun.

Rencananya, Hutama Karya akan menguasai sekitar 2% saham dan Wijaya Karya 5% di proyek tersebut, sementara porsi Adhi Karya belum ditetapkan. Sekretaris Perusahaan Hutama Karya, Ari Widiyantoro, mengatakan perusahaan memutuskan masuk konsorsium karena proyek tol tersebut sangat feasible.

Selain sebagai sarana investasi, Departemen Riset IFT melihat tujuan dari penyertaan saham adalah untuk memperoleh proyek yang diterima oleh perusahaan tersebut. Jadi, selain memperoleh pendapatan dari tol, perseroan juga akan mendapatkan prioritas untuk mengerjakan proyek tol tersebut.

Selain itu, bisnis jalan tol masih berpotensi berkembang sebab infrastruktur di Indonesia masih kurang. Penyebaran jalan tol juga tidak merata, sebagian besar masih terletak di Pulau Jawa, sehingga di masa mendatang perusahaan pengelola tol dapat memperlebar cakupan bisnisnya ke wilayah lain.

Kondisi ini sangat dimungkinkan karena jumlah penduduk Indonesia yang tinggi menyebabkan kebutuhan terhadap infrastruktur juga terus bertambah.

Bisnis tol dipandang menguntungkan karena  adanya penyesuaian tarif tol setiap dua tahun sekali oleh pemerintah. Kenaikan tersebut dapat meredam inflasi sehingga keuntungan yang didapat investor tol tetap stabil.

Hanya, yang perlu diperhatikan adalah bahwa investasi di jalan tol membutuhkan modal yang besar dan merupakan investasi jangka panjang. Oleh karena itu, sebaiknya penyertaan saham oleh badan usaha milik negara di bisnis tol tidak lebih dari 50%. (c8/lik)

12 Jun, 2011


--
Source: http://wartapedia.com/bisnis/korporasi/3794-investasi-tol--berikan-dampak-positif-bagi-bumn-konstruksi.html
~
Manage subscription | Powered by rssforward.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar