JAKARTA - Pemerintah berkomitmen meningkatkan profesionalitas dan kesejahteraan guru. Inilah harga yang harus kita bayar untuk memastikan guru profesional dan martabat itu terjadi jika kesejahteraannya terjamin. ," tegas Wamendiknas Fasli Jalal dalam sambutannya di acara Kongres I Ikatan Guru Indonesia (IGI), di Ruang VIP Gedung A Kementerian Pendidikan Nasional Jakarta, Selasa 21 Juni 2011.
Wakil Menteri Pendidikan Nasional Prof.dr. Fasli Jalal mempertegas komitmennya untuk meningkatkan profesionalitas guru Indonesia. "Guru harus bermartabat. Untuk bermartabat, guru harus profesional dan terjamin kesejahteraannya.
Menurut Fasli, banyak pilar penting untuk membangun pendidikan, tetapi guru adalah pilar utama untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional. Komitmen pemerintah ditunjukkan dengan memberikan Rp 70 trilyun hingga 2016 untuk membiayai peningkatan profesionalitas guru melalui sertifikasi.
Ini tekad pemerintah untuk guru Pemerintah juga mengupayakan kesejahteraan guru non-PNS dengan bantuan Rp 300 ribu per orang per bulan.
Menurutnya, ada sekitar 3,4 juta guru Indonesia yang mengampu sekitar 56 juta siswa. Jika ditambah pendidikan anak usia dini (0-6 tahun) 28 juta anak, jumlahnya menjadi 84 juta. Guru yg belum S-1 diberi beasiswa untuk menjadi S-1. Ada sekitar 400 ribu per tahun diberi beasiswa. Tahun 2015 ditargetkan tak ada lagi guru yang tidak berpendidikan S-1.
Fasli meminta IGI menjadi pelopor peningkatan mutu dan profesionalitas guru. "Saya punya buku. Jika guru-guru mempelajari brain based learning, manajemen sekolah, peningkatan kapasitas guru, maka IGI akan menjadi pelopor profesionalitas guru," tandasnya.
Fasli juga menyinggung pentingnya independensi IGI dan independensi sekolah. Guru tidak boleh terlibat dalam pilkada dan lainnya. "Kita harus membangun independensi sekolah dari intervensi apapun. Misalnya pengaruh pilkada," katanya.
Sementara itu, Ketua Ikatan Guru Indonesia Satria Dharma menyatakan reformasi bangsa sejatinya adalah reformasi di bidang pendidikan. Reformasi pendidikan terletak pada bangkitnya kesadaran guru untuk memperbaiki dirinya, meningkatkan mutu dan profesionalitasnya. "Inilah sejatinya reformasi. IGI akan mendorong perubahan ini dari pribadi guru," tegas. Satria Dharma dalam pidato pembukaan Kongres IGI.
Menurutnya, perubahan itu harus datang dari guru. Bukan dari Kemdiknas. Jika dalam memperjuangkan perubahan itu terdapat hambatan, itu semestinya. "Hambatan, tantangan dan kemudahan itu satu paket."
Satria tidak mengira perkembangan IGI luar biasa besar. Sambutan dan antusiasme guru di daerah kepada IGI sangat besar. Kini, IGI memikili perwakilan di 21 Propinsi dan 191 daerah kabupaten/kotamadya. "IGI seperti lahir atas kehendak Tuhan. Kami tidak mampu melakukannya. Ini semua melalui proses dari bawah, dari guru-guru yang ingin mengubah dirinya," tegas Satria.
IGI adalah sejarah yang akan ditulis bangsa ini. IGI hanya akan melaksanakan upaya peningkatan pendidikan. IGI adalah amanah konstitusi dan pelaksanaan mencerdaskan kehidupan bangsa.
Ada 3,4 juta guru dg 56 juta siswa. Jika guru-guru setiap hari tersenyum, maka dia sudah membahagiakan 56 juta siswa. "Itu artinya sudah 10 kali Singapura. Atau 2 kali Malaysia. Ini artinya akan banyak sekali yang akan IGI lakukan untuk pendidikan," tegas dia.
Satria mengajak semua elemen pendidikan bersama-sama bersinergi demi memajukan dunia pendidikan. "Reformasi sejati adalah di bidang pendidikan dan kita yang harus memulainya."
Ketua Dewan Pembina IGI Indra Djati Sidi mengingatkan seluruh pengurus IGI bahwa kekuatan IGI adalah keinginan guru untuk berubah dan memperbaiki kompetensinya. "Kekuatan IGI adalah keinginan untuk berubah. IGI. Harus menjadi organisasi yang diicintai bangsa ini," tandasnya.
IGI adalah organisasi yang independen, netral dan tidak akan bersentuhan dengan kepentingan politik mana pun. "Kita akan bekerjasama dengan siapa saja tetapi kita tetap netral dan independen," tegas Indra Jati. Independensi ini harus tetap dijaga dan menjadi komitmen IGI sekarang dan yang akan datang.
Indra Djati menyinggung hubungan antara IGI dengan pemerintah. "IGI bukan "anaknya" Kemdiknas. IGI akan bersikap kritis terhadap pemerintah, tapi kritis yang konstruktif. Kritik yang selalu memberi jalan keluar."
Sementara itu, hubungan antara IGI dengan PGRI menurutnya "baik-baik saja." "IGI dengan PGRI dan semua organisasi guru itu sejajar. Kita punya target dan program kerja masing-masing. Hubungan kita baik-baik saja," ujarnya. (***)
--
Source: http://wartapedia.com/edukasi/program/3922-kongres-i-igi-tegaskan-independensi-dan-profesionalitas-guru-.html
~
Manage subscription | Powered by rssforward.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar